Jakarta // krimsusnewstv.id — Hujan deras yang mengguyur Jakarta Barat sejak dini hari kembali memperlihatkan rapuhnya penanganan banjir di tingkat lingkungan. Kawasan pemukiman di Jalan Kedoya Pesing dan Jalan Pesing Koneng, Kelurahan Kedoya Utara, terendam banjir cukup parah pada Kamis (22/01/2026). Air setinggi 30 hingga 50 sentimeter merangsek cepat, melumpuhkan aktivitas warga dan mulai masuk ke rumah-rumah penduduk.
Pantauan di lapangan sekitar pukul 15.13 WIB menunjukkan genangan menutup akses jalan utama hingga gang permukiman, khususnya di wilayah RT 13/RW 08. Warga terpaksa mengangkat barang-barang berharga secara mandiri, tanpa koordinasi, tanpa arahan, dan tanpa kehadiran aparat lingkungan.
Kekecewaan warga pun memuncak. Iwan, salah satu warga terdampak, menyebut banjir kali ini bukan hanya soal hujan, melainkan soal absennya kepedulian.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Air naik cepat sejak siang. Kami panik, tapi tidak ada satu pun pengurus RT yang datang melihat kondisi warga. Kalau hujan terus, kami bisa lebih parah,” ujarnya dengan nada geram.
Ironisnya, di tengah warga berjibaku menyelamatkan keluarga dan harta benda, perangkat RT justru “lenyap”. Hingga sore hari, tak terlihat upaya peninjauan lapangan, pendataan korban, apalagi koordinasi darurat. Sikap pasif ini menuai kecaman keras dari warga yang merasa dibiarkan menghadapi bencana sendirian.
“RT itu dipilih untuk melayani warga, bukan bersembunyi di rumah saat banjir. Harusnya turun, keliling, cek lansia, anak-anak, bukan diam saja,” tegas Iwan.
Situasi kian mengkhawatirkan setelah BMKG mengeluarkan peringatan dini potensi hujan lebat disertai kilat yang masih akan melanda Jakarta Barat hingga malam hari. Ancaman genangan yang lebih tinggi dan kerugian material pun semakin nyata.
Warga mendesak ketua RT dan perangkat lingkungan segera turun ke lapangan, menunjukkan tanggung jawab, serta berkoordinasi dengan pihak kelurahan dan pemerintah daerah untuk mendatangkan pompa air dan bantuan darurat. Bagi warga Kedoya Pesing, banjir kali ini bukan sekadar bencana alam, tetapi cermin kegagalan kepemimpinan di level paling dekat dengan rakyat.
Penulis : Barkah S.
Editor : Redaksi













