Nias Utara // krimsusnewstv.id – Dugaan lemahnya pelayanan kesehatan kembali menjadi sorotan publik di kota gunungsitoli Kabupaten Nias. Seorang warga Desa Alasa bernama Dius menyampaikan keluhan serius terhadap pelayanan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Thomsen, menyusul meninggalnya bayi yang dilahirkan istrinya pada awal Januari 2026. Minggu 18/01/2026
Kepada wartawan, Dius menuturkan bahwa peristiwa tragis tersebut terjadi pada Kamis dini hari, 8 Januari 2026, sekitar pukul 03.00 WIB. Saat itu, istrinya yang tengah hamil dalam kondisi kurang bulan dilarikan ke RSUD Thomsen untuk mendapatkan penanganan medis darurat.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Namun sejak pertama tiba di rumah sakit, keluarga menilai alur penanganan pasien tidak berjalan efektif. Istri Dius sempat diarahkan ke ruang bersalin, kemudian dipindahkan ke Instalasi Gawat Darurat (IGD), sebelum akhirnya kembali lagi ke ruang bersalin dengan menggunakan ambulans, meskipun masih berada dalam satu kawasan rumah sakit.
“Perpindahan itu terjadi beberapa kali dan terekam CCTV. Kejadiannya sekitar jam tiga pagi. Kami sebagai keluarga bingung, kenapa pasien harus bolak-balik, padahal masih dalam satu area rumah sakit,” ujar Dius.
Menurutnya, kondisi tersebut mencerminkan kurangnya kesiapsiagaan dan koordinasi penanganan pasien darurat, terlebih terhadap ibu hamil dengan risiko tinggi. Selain alur yang dinilai berbelit, ia juga menyoroti respons tenaga medis yang dianggap lambat dan kurang sigap.
“Yang kami rasakan, penanganannya seperti menunggu kondisi pasien benar-benar parah dulu. Padahal ini keadaan darurat. Rumah sakit seharusnya bertindak cepat, bukan menunggu,” katanya.
Tragedi pun tak terhindarkan. Setelah dilakukan tindakan operasi persalinan pada pagi harinya, bayi yang dilahirkan istrinya dinyatakan meninggal dunia. Peristiwa tersebut meninggalkan duka mendalam bagi keluarga sekaligus memunculkan tanda tanya besar terkait kualitas pelayanan kesehatan yang diterima.
Dius mengakui bahwa pihak rumah sakit menyampaikan secara lisan bahwa prosedur medis telah dijalankan sesuai standar operasional. Namun sebagai keluarga pasien, ia mengaku tidak memiliki cukup akses untuk memastikan langsung proses penanganan yang dilakukan, mengingat adanya pembatasan kunjungan serta minimnya keterlibatan keluarga dalam proses perawatan.
“Kami hanya menerima penjelasan lisan. Tidak bisa melihat langsung bagaimana penanganannya. Jadi kami tidak tahu apakah semuanya sudah dilakukan secara maksimal atau ada yang terlewat,” jelasnya.
Terkait penyebab meninggalnya bayi, Dius menyebut pihak rumah sakit telah memberikan penjelasan medis. Meski demikian, penjelasan tersebut belum sepenuhnya menghapus rasa kecewa keluarga, terutama terhadap respons awal dan kecepatan penanganan sejak pasien pertama kali tiba di rumah sakit.
Sebagai warga sekaligus peserta BPJS Kesehatan, Dius berharap kejadian ini menjadi evaluasi serius bagi manajemen RSUD Thomsen dan Pemerintah Kabupaten Nias Utara.
“Harapan kami cuma satu, pelayanan harus dibenahi. Mau pasien umum atau BPJS, kalau sudah darurat jangan ditunda. Jangan tunggu kritis dulu baru ditangani. Tidak ada keluarga yang ingin kejadian seperti ini terulang,” tegasnya.
Hingga berita ini diturunkan, manajemen RSUD Thomsen belum memberikan keterangan resmi terkait keluhan tersebut. Redaksi krimsusnewstv.id masih berupaya menghubungi pihak rumah sakit serta Dinas Kesehatan Kabupaten Nias Utara untuk memperoleh klarifikasi dan penjelasan resmi, demi memastikan pemberitaan yang berimbang, akurat, dan transparan.
Penulis : Arvil laoli
Editor : Redaksi













