Gunungsitoli, Krimsusnewstv.id — Menanggapi pemberitaan sebelumnya berjudul “15 Orang Karyawan Dapur Yayasan Prawira Dipecat Sepihak”, Asisten Lapangan (Aslab) Dapur BGN SPPG Sifalaete Tabaloho, Bastian S.P. Hulu, SE, angkat bicara dan meluruskan informasi tersebut. Rabu, (05/11/2025)
Ditemui awak media di Jalan Diponegoro No. 363 UT, Sifalaete Tabaloho, Kota Gunungsitoli, pada Selasa (04/11/2025), Bastian menegaskan bahwa pihak yang bekerja di Dapur Yayasan Prawira—yang dikenal dengan Dapur BGN SPPG—bukanlah karyawan, melainkan relawan. “Relawan berbeda dengan karyawan. Kalau karyawan bekerja untuk perusahaan dengan menerima gaji atau upah, sementara relawan bekerja secara sukarela tanpa imbalan finansial,” tegas Bastian.
Menurutnya, para relawan yang bekerja di dapur BGN telah memahami mekanisme kerja berdasarkan Petunjuk Teknis (Juknis) BGN. Dengan demikian, istilah “pemecatan” tidak tepat digunakan dalam konteks relawan. “Relawan bisa bekerja hari ini dan berhenti besok tanpa perlu surat-menyurat. Jika kinerjanya buruk, cukup diberikan peringatan secara lisan. Ini berbeda dengan karyawan yang diatur oleh Undang-undang Ketenagakerjaan,” ujar Bastian.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Relawan Tidak Profesional Dinilai Menghambat Kinerja
Lebih lanjut, Bastian menyebut bahwa relawan yang dikeluarkan sudah seharusnya tidak lagi dipertahankan karena dianggap tidak bekerja secara profesional. “Sebenarnya mereka sudah lama seharusnya dikeluarkan, sekitar tiga bulan lalu. Tapi Ketua Yayasan Prawira, Adv. Radius Purnawira Hulu, SH, MH, selalu berkata sabar dan beri kesempatan. Namun, akibatnya, pengantaran makanan sering terlambat, rasa makanan tidak konsisten, dan pekerjaan dapur jadi tidak efisien,” ungkapnya.
Ia menambahkan, pasca dikeluarkannya beberapa relawan tersebut, kegiatan dapur berjalan lebih efektif. “Sekarang pengantaran makanan ke sekolah tepat waktu, rasanya juga enak, dan pekerjaan dapur lebih cepat selesai. Artinya, keputusan itu tepat,” jelasnya.
Teguran untuk Yason Gea
Bastian juga menyoroti pernyataan Yason Gea, yang sebelumnya mengkritik Dapur Prawira di media sosial. Ia menilai tindakan tersebut tidak bijak. “Saya ingatkan Bung Yason Gea agar berhati-hati berkomentar. Istrinya, Ulfa Lely Tri Putri Zebua, sudah lama bekerja di Dapur Prawira. Sebenarnya sudah pantas dikeluarkan karena kinerjanya kurang baik, tapi Ketua Yayasan masih mempertahankannya karena menghargai hubungan pertemanan,” kata Bastian.
Ia bahkan menyinggung adanya keluhan dari pihak sekolah mengenai kualitas buah yang dikirim. “Waktu sortir buah salak, banyak yang busuk sampai ke sekolah. Jadi, jangan balas kebaikan orang dengan fitnah,” tambahnya.
Bantahan Isu “Daging Busuk”
Terkait tudingan adanya daging busuk yang dimasak di Dapur Prawira, Bastian membantah tegas isu tersebut.
“Itu tidak benar. Semua bahan makanan disortir beberapa kali sebelum dimasak. Pertama oleh penerima bahan, lalu bagian persiapan, ahli gizi, dan terakhir oleh Kepala SPPG. Kalau bahan tidak layak, langsung dikembalikan ke suplier,” jelasnya.
Menurut Bastian, dapur BGN memiliki standar ketat karena program ini merupakan bagian dari Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas pemerintahan Presiden Prabowo – Gibran. “Kita tidak main-main dengan kualitas bahan. Makanan ini untuk anak-anak sekolah, jadi harus terbaik,” tutupnya.
Penulis : Tim
Editor : Redaksi













