Wamendagri Bima Arya: Pembangunan Berbasis Aglomerasi Jadi Kunci Menggerakkan Ekonomi Kawasan

- Penulis

Rabu, 3 Desember 2025 - 11:46 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Bogor // krimsusnewatv.id – Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Bima Arya Sugiarto menegaskan bahwa pembangunan berbasis aglomerasi merupakan kunci untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih cepat, efektif, dan terarah. Menurutnya, dinamika kawasan metropolitan seperti Jabodetabek menuntut pendekatan pembangunan yang tidak lagi terpaku pada batas administratif, melainkan berorientasi pada keterpaduan wilayah.

Penegasan ini disampaikan Bima saat menjadi narasumber pada Borderline Economic Summit 2025 bertema “Harmonisasi Perencanaan dan Implementasi Percepatan Pertumbuhan Ekonomi di Wilayah Perbatasan”, yang berlangsung di Hotel Pullman Vimala Hills, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Rabu (3/12/2025).

Aglomerasi, Bukan Lagi Sekadar Perbatasan

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Bima menilai konsep pembangunan yang selama ini fokus pada “kawasan perbatasan” tidak lagi relevan untuk menghadapi tantangan urbanisasi dan pertumbuhan megakota. Ia menekankan perlunya perubahan cara pandang menuju model aglomerasi yang memandang kawasan sebagai satu ekosistem terintegrasi. “Ini adalah tentang aglomerasi. Cara pandangnya sekarang berbeda. Tidak lagi sekadar batas administratif, tapi bagaimana kawasan ini bergerak sebagai satu kesatuan,” ujarnya.

Menurut Bima, mobilitas penduduk, arus ekonomi, dan interaksi sosial yang melintasi batas wilayah membuat koordinasi lintas daerah menjadi keharusan. Karena itu, pendekatan pembangunan tidak bisa lagi dilakukan secara sektoral atau terfragmentasi.

Kepemimpinan Efektif Jadi Penentu

Bima juga menekankan pentingnya kepemimpinan daerah yang adaptif, berani, dan mampu bekerja lintas batas. Ia mencontohkan negara-negara Asia yang sukses melesat ekonominya karena memiliki tata kelola pemerintahan yang efektif. “Cina, Korea, Taiwan, Vietnam tumbuh karena satu hal: pemerintahan mereka efektif,” tegasnya.

Baca Juga:  Bertemu Wapres Gibran, AMPERA Dorong Percepatan Pembentukan Provinsi Kepulauan Nias

Ia juga menyoroti model pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) sebagai contoh ekosistem terintegrasi yang dapat diadopsi di kawasan Jabodetabek. “It is ten minutes city. Ke mana-mana sepuluh menit, kantor pemerintahan bisa dicapai dengan berjalan kaki,” imbuhnya.

Isu Strategis dalam Bingkai Aglomerasi

Dalam forum tersebut, Bima memaparkan sejumlah isu yang menuntut kerja lintas kabupaten/kota dalam satu sistem aglomerasi, antara lain:

  • Manajemen sampah skala kawasan
  • Transportasi dan mobilitas terintegrasi
  • Pengembangan wisata dan ekonomi kreatif
  • Penataan ruang berbasis daya dukung lingkungan

Menurutnya, tanpa integrasi kebijakan, berbagai persoalan metropolitan akan terus berulang tanpa solusi tuntas.

Peran Dewan Aglomerasi Jadi Kunci

Bima menegaskan bahwa Dewan Aglomerasi harus berfungsi optimal sebagai lembaga yang memastikan konsistensi perencanaan, penganggaran, serta penataan ruang lintas wilayah. Kinerja dewan ini dinilai krusial untuk mengurangi tumpang tindih kewenangan dan memaksimalkan potensi ekonomi kawasan.

Penandatanganan Protokol Bogor 2025

Acara tersebut sekaligus menjadi momentum penting dengan dilakukan penandatanganan Protokol Bogor 2025, Memorandum of Understanding (MoU), dan perjanjian kerja sama antar kabupaten/kota. Forum ini dihadiri bupati dan wali kota se-Jawa Barat serta unsur Forkopimda Kabupaten Bogor.

Penulis : Julius Giawa

Editor : Redaksi

Sumber Berita: Puspen Kemendagri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel krimsusnewstv.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Pers Harus Tetap Jadi Benteng Terakhir Kebenaran
Diduga Apotek Gelap di Penjaringan Masih Beroperasi, Bos Toko Disebut Kabur ke Aceh
Pemilik Toko Ponsel Yang Viral Di Medan Berubah Status dari Pelapor Jadi Tersangka, Praktisi Hukum Soroti Dugaan Kekeliruan Penegakan Hukum di Medan
GMNI Kecam Praktik Jual Beli Jabatan Pendamping Desa, Dinilai Rusak Integritas Pembangunan Desa
Gandeng Stakeholder, Rutan Kelas I Medan Kembali Berikan Penyuluhan Hukum bagi Tahanan
Transisi Kepemimpinan Perumda Mual Na Tio Sarat Kepentingan, Tokoh Pemuda Sumut Paulus Gulo Angkat Bicara
HGU PT SMART Diduga Berakhir, Front Mahasiswa dan Masyarakat KTPHS Desak BPN Labuhanbatu Buka Data
DPW PROJAMIN Sumut Perkuat Konsolidasi Internal dan Peran Strategis Organisasi
Berita ini 5 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 9 Februari 2026 - 00:59 WIB

Pers Harus Tetap Jadi Benteng Terakhir Kebenaran

Sabtu, 7 Februari 2026 - 23:40 WIB

Diduga Apotek Gelap di Penjaringan Masih Beroperasi, Bos Toko Disebut Kabur ke Aceh

Sabtu, 7 Februari 2026 - 11:34 WIB

Pemilik Toko Ponsel Yang Viral Di Medan Berubah Status dari Pelapor Jadi Tersangka, Praktisi Hukum Soroti Dugaan Kekeliruan Penegakan Hukum di Medan

Jumat, 6 Februari 2026 - 11:26 WIB

GMNI Kecam Praktik Jual Beli Jabatan Pendamping Desa, Dinilai Rusak Integritas Pembangunan Desa

Jumat, 6 Februari 2026 - 08:33 WIB

Gandeng Stakeholder, Rutan Kelas I Medan Kembali Berikan Penyuluhan Hukum bagi Tahanan

Berita Terbaru

Berita

Pers Harus Tetap Jadi Benteng Terakhir Kebenaran

Senin, 9 Feb 2026 - 00:59 WIB