KUDETA JALANAN OLEH MAFIA OBAT! Toko “Hantu” Jual Tramadol Cs di Jakbar Hina Wibawa Negara — Aparat Dibikin “Mati Kutu”

- Penulis

Kamis, 16 Oktober 2025 - 11:01 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

{

i

{"data":{"activityName":"","alias":"","appversion":"0.0.1","editType":"image_edit","exportType":"ads_export","filterId":"","imageEffectId":"","os":"android","pictureId":"65a7ed51ec394ecd98870c7ea1225eb8","playId":"","product":"lv","infoStickerId":"","stickerId":""},"source_type":"vicut","tiktok_developers_3p_anchor_params":"{"source_type":"vicut","client_key":"aw889s25wozf8s7e","picture_template_id":"","capability_name":"retouch_edit_tool"}"}

Jakarta darurat // krimsusnewstv.id— Sebuah ironi hukum kembali dipertontonkan di jantung Ibu Kota. Di kawasan Duri Kepa, Kebon Jeruk, Jakarta Barat, praktik ilegal penjualan obat keras jenis Tramadol, Hexymer, dan Trihex kembali marak, seolah menertawakan hukum dan menginjak martabat negara.

Yang lebih memalukan, kios yang sempat digerebek tim gabungan TNI dan Satpol PP pada Rabu, 15 Oktober 2025, kini kembali beroperasi hanya 24 jam setelah penindakan. Fenomena ini tak ubahnya sebuah “kudeta jalanan” oleh mafia obat terhadap wibawa aparat penegak hukum.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kronologi Gagalnya Sistem: Mafia Tiga Kali Menang Lawan Aparat

Berdasarkan hasil liputan investigatif jurnalis Barca Setiawan dari Media Krimsus, berikut pola berulang yang menggambarkan lemahnya penegakan hukum di lapangan:

  • Mei 2025: Aktivitas penjualan obat keras tanpa izin pertama kali terpantau warga sekitar.
  • September 2025: Pelaku sempat diamankan dan menandatangani BAP administratif, namun tak ada proses hukum lanjut.
  • 15 Oktober 2025: Tim gabungan TNI dan Satpol PP kembali menggerebek lokasi, memusnahkan sejumlah barang bukti, dan menutup kios.
  • 16 Oktober 2025, pukul 09.28 WIB: Kios kembali buka dengan stok baru, seolah hukum tak pernah singgah di tempat itu.

Fakta ini menjadi bukti telanjang bahwa jaringan mafia obat di Jakarta Barat bukan sekadar pelanggar hukum, tetapi pemain lihai yang mampu memanfaatkan celah birokrasi dan lemahnya koordinasi antarinstansi.

Celah Birokrasi yang Bikin Mafia Tertawa

Sumber internal Satpol PP yang enggan disebut namanya mengungkapkan, tumpang tindih kewenangan menjadi penyebab utama lemahnya tindakan tegas.

“Tim gabungan di tingkat kelurahan dan kecamatan hanya punya kewenangan menindak dan memusnahkan barang. Untuk penyegelan permanen atau pencabutan izin, kewenangan ada di tingkat kota atau provinsi,” ujarnya kepada wartawan Media Krimsus.

Baca Juga:  Polres Nias Selatan Gelar Apel Operasi Lilin Toba 2025, Fokuskan Pengamanan Nataru dan Antisipasi Bencana

Masalahnya, celah waktu antara penindakan lapangan dan proses administratif justru dimanfaatkan oleh pelaku. Dalam hitungan jam, kios kembali buka, menebar racun sosial ke masyarakat bawah dan generasi muda yang mudah tergiur harga murah.

Padahal, Pasal 435 Undang-Undang Kesehatan Nomor 17 Tahun 2023 secara tegas menyebutkan bahwa pengedar obat keras tanpa izin edar dapat dipidana hingga 15 tahun penjara. Namun di lapangan, ancaman itu seolah hanya teks tanpa taring.

Peringatan Serius: Ini Bukan Sekadar Pelanggaran Perda — Ini Krisis Moral Bangsa!

Fenomena buka-tutup kios obat keras di Jakarta Barat menunjukkan lumpuhnya sistem koordinasi dan ketidakhadiran negara di tingkat daerah.

Setiap pil yang dijual tanpa izin adalah bom waktu sosial yang perlahan menghancurkan masa depan remaja dan menjerumuskan masyarakat miskin dalam lingkaran ketergantungan. Kasus ini seharusnya menjadi peringatan keras bagi Kapolres Metro Jakarta Barat dan Kepala Satpol PP Provinsi DKI Jakarta untuk tidak lagi memandang enteng persoalan ini.

Penegakan hukum tidak boleh berhenti di razia simbolik. Negara tidak boleh kalah dari mafia obat. Jika hukum terus membisu, maka publik akan kehilangan kepercayaan terhadap institusi negara, dan stigma “Jakarta di bawah kendali mafia obat” akan menjadi kenyataan pahit.

Penutup: Saatnya Negara Bangkit, Bukan Diam

Kios “hantu” di Duri Kepa hanyalah satu potret kecil dari jaringan besar perdagangan obat keras ilegal yang kini menebar ancaman nyata bagi generasi muda Indonesia.

Masyarakat menunggu langkah konkret, cepat, dan tegas dari aparat penegak hukum. Sebab jika hukum terus tunduk pada mafia, maka yang hancur bukan hanya wibawa aparat — tetapi moral dan masa depan bangsa.

Penulis : Barkah S.

Editor : Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel krimsusnewstv.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Ketum PWO Dwipa: OTT Wartawan Amir Diduga Setingan, MOU Dewan Pers–Polri Dipertanyakan
Adv. Itoloni Gulo, SH Serta Tim Apresiasi Respons Cepat Disnaker Gunungsitoli Terkait Dugaan PHK Sepihak Relawan MBG.
Diduga Layani Mafia BBM Subsidi, SPBU di Air Joman Disorot Publik
Forum Perangkat Daerah 2027 Resmi Dibuka, Pemkot Gunungsitoli Fokus Tajam pada Pembangunan Berdaya Saing
Inspektorat Nias Selatan Segera Audit Dana Desa Hilimbaruzo, Dugaan Penyimpangan Miliaran Rupiah Disorot Publik
Diduga Tak Berizin, Aktivitas Galian C Tanah Urug di Desa Perbaungan Tuai Sorotan Warga
PD AMAL Marga Laoli Gelar Ibadah Mingguan, Perkuat Persatuan Keluarga Besar Laoli
Wali Kota Gunungsitoli Lantik 16 Penjabat Kepala Desa, Tegaskan Integritas dan Pelayanan Publik
Berita ini 91 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 19 Maret 2026 - 13:50 WIB

Ketum PWO Dwipa: OTT Wartawan Amir Diduga Setingan, MOU Dewan Pers–Polri Dipertanyakan

Rabu, 18 Maret 2026 - 04:46 WIB

Adv. Itoloni Gulo, SH Serta Tim Apresiasi Respons Cepat Disnaker Gunungsitoli Terkait Dugaan PHK Sepihak Relawan MBG.

Selasa, 17 Maret 2026 - 14:56 WIB

Diduga Layani Mafia BBM Subsidi, SPBU di Air Joman Disorot Publik

Selasa, 17 Maret 2026 - 06:02 WIB

Forum Perangkat Daerah 2027 Resmi Dibuka, Pemkot Gunungsitoli Fokus Tajam pada Pembangunan Berdaya Saing

Senin, 16 Maret 2026 - 05:19 WIB

Inspektorat Nias Selatan Segera Audit Dana Desa Hilimbaruzo, Dugaan Penyimpangan Miliaran Rupiah Disorot Publik

Berita Terbaru