Mafia Beras Kuasai Batam, Pelabuhan Tikus Punggur Jadi Jalur Selundupan – Aparat Diduga Tutup Mata

- Penulis

Kamis, 18 September 2025 - 17:40 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

{

i

{"data":{"activityName":"","alias":"","appversion":"0.0.1","editType":"image_edit","exportType":"ads_export","filterId":"","imageEffectId":"","os":"android","pictureId":"2e6fc333d1c94b858fd580cddb0e5ba7","playId":"","product":"lv","infoStickerId":"","stickerId":""},"source_type":"vicut","tiktok_developers_3p_anchor_params":"{"source_type":"vicut","client_key":"aw889s25wozf8s7e","picture_template_id":"","capability_name":"retouch_edit_tool"}"}

Batam // krimsusnewstv.id – Batam, Kepulauan Riau Praktik kejahatan ekonomi kembali mencoreng wajah Batam. Sindikat mafia penyelundupan beras diduga semakin leluasa beroperasi melalui jalur ilegal di Pelabuhan Rakyat Punggur, Batam. Beras dalam jumlah besar diselundupkan menuju Sungai Gentong, Tanjung Uban, sebelum diteruskan ke Tanjung Pinang dan berbagai daerah lain di Kepulauan Riau.

Aksi ini bukan hanya merugikan masyarakat, tetapi juga mengakibatkan negara kehilangan potensi pajak hingga miliaran rupiah.

Modus Licik Sindikat Mafia

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Berdasarkan investigasi Krimsus News TV ID, sindikat mafia memanfaatkan lemahnya pengawasan di pelabuhan rakyat yang selama ini dikenal sebagai “jalur tikus”. Dengan cara yang terorganisir, beras dipindahkan secara diam-diam menggunakan kapal kecil.

Setelah tiba di Sungai Gentong, Tanjung Uban, barang haram tersebut langsung didistribusikan lewat jalur darat menuju Tanjung Pinang, lalu tersebar ke berbagai pulau di Kepri tanpa tersentuh pungutan resmi negara.

Jika beras tersebut diberangkatkan langsung dari Batam, otomatis akan dikenakan bea masuk dan pungutan resmi pemerintah. Namun, demi menghindari kewajiban pajak, sindikat memilih jalur belakang yang justru merugikan negara dan merusak tatanan ekonomi masyarakat.

Aparat Diduga Tutup Mata

Ironisnya, praktik penyelundupan ini diduga berjalan mulus tanpa hambatan. Tidak ada upaya tegas dari aparat penegak hukum, khususnya Bea Cukai, yang seharusnya menjadi garda terdepan dalam menjaga keluar masuknya barang ilegal di wilayah perbatasan.

Publik pun bertanya-tanya:

“Di mana aparat penegak hukum selama ini? Apa fungsi Bea Cukai jika penyelundupan sebesar ini bisa lolos begitu saja?”

Baca Juga:  Firman Jaya Daeli Bertemu Hermon Dekristo, Bahas Supremasi Hukum dan Pembangunan Daerah

Kuat dugaan bahwa praktik ini berlangsung dengan pembiaran, bahkan bisa saja terjadi kongkalikong antara oknum aparat dengan sindikat mafia. Hal ini membuat mafia penyelundupan semakin merasa kebal hukum.

Ancaman Serius Bagi Ekonomi Negara

Pengawasan di pelabuhan rakyat yang lemah memperlihatkan celah besar yang dimanfaatkan mafia. Jika dibiarkan, Batam dan Kepulauan Riau akan terus menjadi “ladang basah” bagi para penjahat ekonomi yang merampok keuangan negara secara sistematis.

Tindakan penyelundupan ini bukan hanya soal hilangnya potensi pajak, tetapi juga merusak stabilitas pasar dan ekonomi lokal, membuat harga beras menjadi tidak terkendali, serta merugikan petani dan pelaku usaha resmi.

Tuntutan Publik: Tindak Tegas atau Diam Seribu Bahasa

Masyarakat kini menantikan langkah nyata dari aparat penegak hukum dan pemerintah daerah. Apakah mereka berani membongkar jaringan mafia penyelundupan ini dan menindak tegas para pelaku, atau justru memilih bungkam dan berpura-pura tidak tahu?

Jika dibiarkan, hal ini akan menjadi bukti nyata bahwa negara kalah oleh mafia, sementara rakyat terus menjadi korban. “Batam dan Kepulauan Riau tidak boleh terus-menerus menjadi surga bagi mafia penyelundupan. Negara harus hadir dan bertindak tegas,” tegas seorang aktivis anti-korupsi yang enggan disebutkan namanya.

Krimsusnewstv.id akan terus mengawal dan mengungkap fakta terkait dugaan praktik mafia beras ini, demi mewujudkan penegakan hukum yang bersih dan ekonomi yang sehat di Kepulauan Riau.

 

Penulis : Andi Amiruddin

Editor : Redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel krimsusnewstv.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Ketum PWO Dwipa: OTT Wartawan Amir Diduga Setingan, MOU Dewan Pers–Polri Dipertanyakan
Adv. Itoloni Gulo, SH Serta Tim Apresiasi Respons Cepat Disnaker Gunungsitoli Terkait Dugaan PHK Sepihak Relawan MBG.
Diduga Layani Mafia BBM Subsidi, SPBU di Air Joman Disorot Publik
Forum Perangkat Daerah 2027 Resmi Dibuka, Pemkot Gunungsitoli Fokus Tajam pada Pembangunan Berdaya Saing
Inspektorat Nias Selatan Segera Audit Dana Desa Hilimbaruzo, Dugaan Penyimpangan Miliaran Rupiah Disorot Publik
Diduga Tak Berizin, Aktivitas Galian C Tanah Urug di Desa Perbaungan Tuai Sorotan Warga
PD AMAL Marga Laoli Gelar Ibadah Mingguan, Perkuat Persatuan Keluarga Besar Laoli
Wali Kota Gunungsitoli Lantik 16 Penjabat Kepala Desa, Tegaskan Integritas dan Pelayanan Publik
Berita ini 120 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 19 Maret 2026 - 13:50 WIB

Ketum PWO Dwipa: OTT Wartawan Amir Diduga Setingan, MOU Dewan Pers–Polri Dipertanyakan

Rabu, 18 Maret 2026 - 04:46 WIB

Adv. Itoloni Gulo, SH Serta Tim Apresiasi Respons Cepat Disnaker Gunungsitoli Terkait Dugaan PHK Sepihak Relawan MBG.

Selasa, 17 Maret 2026 - 14:56 WIB

Diduga Layani Mafia BBM Subsidi, SPBU di Air Joman Disorot Publik

Selasa, 17 Maret 2026 - 06:02 WIB

Forum Perangkat Daerah 2027 Resmi Dibuka, Pemkot Gunungsitoli Fokus Tajam pada Pembangunan Berdaya Saing

Senin, 16 Maret 2026 - 05:19 WIB

Inspektorat Nias Selatan Segera Audit Dana Desa Hilimbaruzo, Dugaan Penyimpangan Miliaran Rupiah Disorot Publik

Berita Terbaru