Medan // krimsusnewstv.id — Tepat satu tahun sejak dilantik pada 20 Februari 2025, kepemimpinan Gubernur Sumatera Utara Bobby Nasution bersama Wakil Gubernur Surya memasuki fase reflektif. Satu tahun perjalanan ini dinilai bukan sekadar hitungan administratif, melainkan tahap awal konsolidasi arah dan karakter pembangunan Sumatera Utara. 22/02/2023
Dewan Pimpinan Daerah Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (DPD GMNI) Sumatera Utara memaknai periode ini sebagai upaya membumikan prinsip ideologis “Setia kepada Sumber”, yakni pandangan yang menempatkan rakyat sebagai asal kekuasaan, orientasi kebijakan, sekaligus tujuan akhir pembangunan.
Bagi GMNI Sumut, pembangunan tidak boleh direduksi pada angka pertumbuhan ekonomi, daftar proyek fisik, atau capaian statistik semata. Pembangunan harus diukur dari sejauh mana kebijakan publik menghadirkan keadilan sosial dan membebaskan rakyat kecil dari ketimpangan struktural yang selama ini mengakar.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Sumber kekuatan kita adalah rakyat. Maka setiap kebijakan yang lahir harus bermuara pada kepentingan mereka yang selama ini terpinggirkan. Setia kepada sumber berarti setia pada jeritan dan harapan kaum marhaen,” tegas Kristianus Dachi, Wakil Ketua DPD GMNI Sumatera Utara.
Orientasi kebijakan dan catatan kritis, dalam satu tahun terakhir, GMNI Sumut mencatat adanya langkah-langkah kebijakan yang dinilai mulai menyentuh kepentingan dasar masyarakat. Beberapa di antaranya adalah penguatan sektor UMKM sebagai tulang punggung ekonomi rakyat, perluasan akses layanan kesehatan agar kemiskinan tidak menjadi penghalang memperoleh layanan medis, serta perbaikan infrastruktur dasar yang menopang aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat.
Meski demikian, GMNI menekankan bahwa konsistensi menjadi ujian utama memasuki tahun kedua kepemimpinan. Modal moral berupa kerja keras dan kesetiaan pada mandat rakyat, menurut mereka, harus terus dijaga agar tidak tergelincir pada pragmatisme kekuasaan.
Dalam kerangka ideologis yang mereka suarakan, nilai-nilai Pancasila tidak boleh berhenti sebagai slogan normatif, melainkan harus menjadi ruh dalam setiap kebijakan publik. Prinsip keadilan sosial, khususnya keberpihakan kepada kaum marhaen, dinilai harus tercermin secara nyata dalam perencanaan dan pelaksanaan pembangunan di Sumatera Utara.
“Kami bersama pemuda di Sumatera Utara tidak mempersoalkan keterbatasan capaian dalam satu tahun kepemimpinan. Kami meyakini Gubernur memiliki prinsip keberpihakan yang jelas kepada sumber kekuatan bangsa, yakni rakyat. Tugas kita bersama adalah menjaga agar kesetiaan itu tetap lurus dan berpihak,” pungkas Dachi.
Refleksi, bukan vonis, bagi GMNI Sumut, refleksi satu tahun Bobby–Surya bukanlah penilaian final, melainkan pengingat ideologis. Kekuasaan, dalam perspektif mereka, hanya bermakna sejauh ia tetap setia kepada sumbernya dan memuliakan rakyat kecil.
Memasuki tahun kedua, tantangan pembangunan Sumatera Utara dipastikan semakin kompleks. Konsistensi arah, keberanian mengambil kebijakan pro-rakyat, serta keteguhan menjaga integritas akan menjadi penentu apakah semangat “Setia kepada Sumber” benar-benar menjelma menjadi karakter kepemimpinan, atau sekadar menjadi narasi politik.
Refleksi ini menjadi alarm moral sekaligus harapan: bahwa pembangunan bukan sekadar kerja teknokratis, tetapi perjuangan ideologis yang berpijak pada rakyat sebagai sumber dan tujuan akhir kekuasaan.
Penulis : Redaksi













